Daftar Arsip
▼ 2007 (5)
▼ September (3)
Tangisan Bayi
Imunisasi TT
Makan Formalin
► Oktober (2)
► 2008 (1)
Google News
After bombing, Turkish leader urges unity - Intern...
Canada.comAfter bombing, Turkish leader urges unityInternational Herald Tribune - 1 hour agoBy Sebnem Arsu ISTANBUL: Prime Minister Recep Tayyip ...
Lawmakers Agree to Ban Toxins in Children's It...
Lawmakers Agree to Ban Toxins in Children's ItemsWashington Post - 2 hours agoBy Lyndsey Layton Congressional negotiators agreed yesterday to...
Miles driven in May drop 3.7 pct: government - Reu...
ABC NewsMiles driven in May drop 3.7 pct: governmentReuters - 31 minutes agoBy Tom Doggett WASHINGTON (Reuters) - Soaring gasoline prices and a w...
Cuil not a Google killer - yet - CNNMoney.com
BBC NewsCuil not a Google killer - yetCNNMoney.com - 1 hour agoBy Yi-Wyn Yen With hours of being launched Monday, Cuil - a new search engine crea...
Bombers and Ethnic Clashes Kill 61 in Iraq - New Y...
NewsweekBombers and Ethnic Clashes Kill 61 in IraqNew York Times - 34 minutes agoKurdish protesters ran for cover on Monday in Kirkuk, Iraq, afte...
UPDATE 4-Merrill to sell $8.5 bln stock after big ...
CitizenUPDATE 4-Merrill to sell $8.5 bln stock after big write-downReuters - 1 hour agoBy Christian Plumb and Jonathan Stempel NEW YORK, July 28 ...
Obama promises efforts to revive economy - The Ass...
Malaysia StarObama promises efforts to revive economyThe Associated Press - 2 hours agoWASHINGTON (AP) - Democratic presidential candidate Barack...
Blogging Software
Add RSS Feeds to My Website
Jurnal
High Wire Press
Mengobati Step
Amar Subagiyo
Anak step, jangan dianggap enteng. Menurut pengamatan di sekitar, step dapat menyebabkan anak mengalami gangguan berpikir alias lemah daya ingatnya. Bahkan penanganan yang kurang pas atau karena kondisi anak yang kurang kuat dapat menyebabkan lumpuh, cacat bagian tubuh tertentu atau bisu.
Ikuti beberapa tips dan trik mengatasi dan mencegah step yang akan diuraikan dibelakang, yang berasal dari pengalaman pribadi dan beberapa teman. Jangan bosan, baca sampai habis ya? Tak ada ruginya kok. Syukur kalau selesai membaca materi ini bersedia memberikan komentar atau masukan sehingga nantinya lebih melengkapi tulisan ini sekaligus turut serta memberikan bantuan kepada pihak pembaca yang sangat memerlukan.
Maaf jika dalam tulisan ini dipandang kurang pas dari sudut pandang medis, karena penulis sama sekali tidak memiliki latar belakang medis. Namun tidak ada jeleknya bukan menuliskan apa adanya terutama sebagian besar yang berasal dari pengalaman pribadi.
Berkenalan dengan step bermula dari anak kedua yang masih berusia sekitar umur 2 tahun. Ketika itu anakku ada gejala batuk dan panas. Aku dan istriku sebagai orang terpelajar langsung membawa ke dokter pastikelir atau swasta terdekat. Istriku masuk ke tempat praktek, sementara aku menunggu di luar.
Aku agak heran juga ketika proses pemeriksaan oleh Dokter Husnan agak lama, menurutku. Namun kemudian aku dikagetkan oleh teriakan istriku yang bilang padaku bahwa putraku step dan dokter minta ijin untuk menyuntik.
Bagai tersambar petir aku mengiyakan. Terbayang dan terngiang olehku cerita tanteku beberapa tahun silam, anak yang dalam kondisi panas dan step jika disuntik bisa berakibat fatal, kalau tidak cacat, meninggal dan alternatif terakhir ya sudah tentu sembuh. Seketika aku berdoa : Tuhan, jika engkau menghendaki jiwa anakku, aku ikhlas menerimanya. Namun jika belum tiba masa untuk anakku, mohon disembuhkan dan diberi jalan keluar. Dan aku ikhlas anakku disuntik. Sungguh kau maha perkasa lagi bijaksana. Tak terasa air mataku menetes.
Akupun masuk ruangan praktek dokter. Terlihat dokter Husnan dibantu istrinya yang juga seorang dokter sibuk mambuka baju anakku, melumurinya dengan alkohol dan mengarahkan kipas angin langsung ke anakku yang sedang kejang. Kegiatan itu dilakukan berulang-ulang. Tampak kecemasan di raut wajah kedua dokter tersebut, terlebih istriku. Terus terang aku tidak bisa melihat wajahku sendiri.
Walau sudah meminta ijin untuk menyuntik, ternyata sang dokter tidak juga menyuntik untuk menurunkan panas tubuh sang pasien. Dari situ aku menyadari, bahwa menyuntik pasien dalam kondisi suhu tubuh tinggi dan step penuh resiko. Akhirnya dokter Husnan menyerah dan kembali meminta ijin untuk memberikan suntikan. Tidak ada kata lain selain menyetujui. Doa yang sama kembali aku panjatkan.
Setelah mendapat persetujuan walau tidak tertulis dokter Husnan langsung menyuntik anaku, walau nampak ragu-ragu. Aku dan istri pasrah. Beberapa menit kemudian ternyata suhu tubuh anakku turun. Anakku yang sejak tadi kejang-kejang dengan pandangan membelalak (mendelik : Jawa), sudah tidak lagi. Bahkan terdengar tangisnya. Tentu saja karena efek suntikan. Aku bernafas lega.
Dokter Husnan memintaku secepatnya pulang dan meminumkan obat yang diberikannya begitu sampai di rumah.
Sesampai di rumah segera obat dari dokter diminumkan, dan alhamdulillah temperatur tubuh anak keduaku turun. Artinya step tidak terulang. Tetapi aku tidak dapat tidur semalaman, berjaga sambil memegangi tangan si sakit dengan tujuan ketika ada gejala step akan cepat terdeteksi. Untuklah pagi harinya kedaan bertambah membaik.
Sampai sekarang nama obatnya masih ingat. Jika aku sebutkan mereknya disini bukan untuk promosi, melainkan karena aku punya pengalaman tersendiri jika ternyata obat yang diberikan kurang pas. Karena terserang penyakit batuk dan panas, dokter memberikan obat : nodrof (penurun panas ?), ikaprim (antibiotik ?) dan obat batuk cair. Antibiotik ikaprim disini, awas bukan otoprim. Sebab keluargaku punya pengalaman negatif untuk obat yang disebutkan terakhir.
Sebagai keluarga terpelajar (bau sekolahan maksudku), begitu anak keduaku badannya hangat lagi cepat kubawa ke Puskesmas. Obat dari Puskesmas kuminumkan. Ternyata anakku kembali step. Untung alkohol 70% sudah disiapkan. Dengan bantuan mbak Wasinah (tetanggaku yang bagaikan Dewi) alkohol dioleskan ke seluruh tubuh kecuali bagian muka. Lalu dikipasi pakai buku. Berulang-ulang. Setelah suhu tubuh menurun dan stepnya hilang , dengan berani kuminumkan antibiotik dan penurun panas yang sama dengan yang dari dokter Husnan (sebenarnya aku sudah menyiapkan obat itu, untuk jaga-jaga, aku beli di apotik, tanpa resep dokter sekarang bisa bukan ?). Alhamdulillah besok paginya membaik. Sementara obat dari Puskesmas tidak aku pakai lagi. Istilahnya aku dokteri sendiri. Sejak itu aku fanatik terhadap obat itu, sampai akhirnya di pasaran sudah tidak beredar lagi. Intinya, walau ditangani dokter, kembali obatnya cocok atau tidak, jika tidak cocok (terutama antibiotiknya) maka yang bersangkutan akan step kembali.
Penyebab step (pengamatan dan dari pengalaman saja lho) :
Suhu tubuh meningkat karena sakit, terutama jika terjadi peradangan. Batuk dan flu pun dapat menyebabkan step.
Gejala step :
1. Pada suhu tubuh baru 38oC, kejang sudah mulai terjadi. Pegang tangan putra/i terus menerus. Jika sesekali kejang (seperti terkejut), itulah tanda awal step.
2. Jika temperatur terus naik, biasanya pada tingkat 40oC pun kejang-kejang sudah nampak.
3. Kejang disertai mata membelalak (tidak berkedip).
4. Gigi tampak menggigit kuat.
Mencegah step :
1. Kenali penyebab step pada anak anda, misal flu. Jika tubuh mulai hangat, mulailah mengukur suhu tubuhnya dengan termometer.
2. Siapkan selalu di kotak obat anda obat-obatan yang diyakini cocok. Terutama penurun panas dan antibiotik. Jangan lupa alkohol 70% untuk kompres dan wash lap.
3. Jika suhu tubuh mendekati 38oC, dan penyakit dirasa sejenis dengan yang sudah-sudah, minumkan obat dengan dosis sesuai anjuran dokter (waktu periksa terakhir).
4. Jika minum obat pertama setelah magrib (jam 18.00 ), usahakan pukul 24.00 diberikan obat kedua. Namun jangan lupa memberikan air gula sebelum minum obat kedua.
5. Ddiberi minum kopi (sewaktu kondisi anak sehat), walau 1 sendok atau 2 sendok makan sehari. Ingat biasanya yang step anak berumur 0- 5 tahun. Setelah masa itu terlewati, insyaallah relatif aman.
6. Pijat pada telap kaki dan tangan, agar panas merata keseluruh tubuh dan suhu menurun. Kadangkala panas yang tinggi dikarenakan panas terpusat pada bagian tertentu (misal leher) karena radang.
7. Pada bagian kepala, berikan wash lap basah. Begitu juga pada bagian yang paling panas.
Mengatasi step :
1. Buka semua baju si sakit dan jendela rumah agar mendapat udara segar.
2. Jika perlu si sakit di letakkan di lantai.
3. Buka mulut (gigi?) dan masukkan sedok makan. Ini dimaksudkan agar gigi si sakit tidak menggigit lidahnya sendiri.
4. Oleskan dengan telapak tangan alkohol 70% ke seluruh tubuh kecuali muka. Kipas-kipas dengan kipas atau buku. Lakukan berulang-ulang kedua tindakan tadi.
5. Bila tidak tersedia alkohol, ambil handuk, celupkan ke air kamar mandi , peras sedikit, lalu lilitkan ke tubuh. Ulangi berulang-ulang.
6. Pada bagian yang paling panas (leher misalnya) beri wash lap basah.
7. Kalau suhu tubuh menurun dan tidak kejang lagi, secepatnya minumkan obat yang tersedia di kotak obat dengan dosis anjuran dokter.
Demikian beberapa pengalamanku mengatasi step. Yang perlu diingat, jangan sampai anak mengalami step berulang-ulang (lebih 2 kali). Sebab jika itu terjadi ada kalanya si anak daya pikirnya akan terganggu, walau beberapa kasus tidak berpengaruh.
Usahakan meghindari mengatasi step dengan mengambil sumsum tulang belakang. Hal ini berdasarkan pengalaman tetanggaku. Anaknya sering step akhirnya di bawa di Rumah Sakit di Surabaya. Opname. Menunggu diambil sumsum tulang belakangnya. Selama masa tunggu itulah keluarga pasien menjumpai pasien lain yang diambil sumsum tulang belakangnya ternyata lumpuh total. Akhirnya tetanggaku meminta pulang paksa dan dirawat sendiri dengan sering memberi minum kopi (memacu jantung). Alhamdulillah sehat sampai sekarang.
Mudah-mudah bermanfaat. Jika anda punya pengalaman lain harap bersedia memberi komentar agar dapat memberi alternatif pengatasan step yang lebih sempurna. Terima kasih atas kunjungan anda.
Label: Kesehatan
0 komentar:
Posting sebuah Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka
Berlangganan: Posting Komentar (Atom)
Acne vulgaris
Harga Komoditas
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar